Perlukah Mahasiswa S1 Teknik Industri Mempelajari Al-Qur’an?
Bismillahirrahmanirrahim.
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tapi menyimpan kedalaman makna yang
jarang disadari: “Mengapa mahasiswa Teknik Industri perlu mempelajari
Al-Qur’an?” Bukankah kuliah teknik seharusnya fokus pada rumus, optimasi,
efisiensi, dan data numerik? Apa hubungan kitab suci dengan diagram alir,
metode lean, atau perancangan sistem produksi?
Jawabannya justru ada pada kesadaran bahwa ilmu dan iman tidak pernah
benar-benar terpisah. Di
dunia industri, kita diajarkan mencari efisiensi tertinggi, meminimalkan
pemborosan, memaksimalkan hasil. Namun, Al-Qur’an telah lebih dahulu
mengajarkan prinsip yang sama dalam bahasa nilai: “Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Ayat ini bukan sekadar peringatan
moral, tapi juga dasar filosofis dari konsep efisiensi itu sendiri.
Mahasiswa Teknik Industri sering berhadapan dengan angka, sistem, dan
algoritma. Tapi di balik
semua itu, ada satu hal yang tidak bisa dioptimasi oleh rumus apa pun: niat.
Sehebat apa pun desain pabrik yang dibuat, tanpa niat yang lurus dan etika yang
kuat, hasilnya bisa melenceng dari kebermanfaatan. Di sinilah Al-Qur’an hadir, bukan
untuk menggantikan teori industri, melainkan untuk menghidupkan nilai dalam
setiap teori yang kita pelajari.
Bayangkan seorang insinyur yang tidak hanya menghitung waktu siklus kerja,
tapi juga memahami bahwa manusia di balik mesin itu punya hati, keluarga, dan
doa. Ia bukan sekadar planner
yang merancang sistem, tapi khalifah yang menjaga keseimbangan antara
efisiensi ekonomi dan keberlanjutan sosial. Itulah esensi dari ayat: “Dan
carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia.” (QS.
Al-Qashash: 77).
Al-Qur’an bukan teks asing bagi mahasiswa teknik, ia adalah blueprint
nilai yang bisa menuntun arah berpikir ilmiah menjadi lebih manusiawi. Ketika
seorang mahasiswa membaca surat Al-‘Alaq, “Iqra’ bismi rabbika,” sebenarnya ia
sedang dipanggil untuk membaca dengan kesadaran spiritual, bukan sekadar
menelan teori. Membaca bukan hanya aktivitas akademik, tapi bentuk ibadah
intelektual.
Mempelajari Al-Qur’an bagi
mahasiswa Teknik Industri bukan berarti menghafal ayat tanpa makna, melainkan mengintegrasikan
nilai Qur’ani ke dalam cara berpikir sistemik. Misalnya, konsep continuous
improvement (kaizen) yang populer di industri Jepang, sejatinya sudah
diajarkan dalam prinsip islah, perbaikan berkelanjutan demi kebaikan.
Atau ide lean manufacturing yang menolak pemborosan, selaras dengan
semangat wasathiyah, seimbangan dan tidak berlebihan.
Mungkin di kampus kita jarang
membahas ayat dalam ruang kuliah statistik atau manajemen operasi. Tapi di
ruang refleksi pribadi, setiap ayat bisa menjadi panduan etis bagi keputusan
teknik yang kita ambil. Sebab, Al-Qur’an tidak dimaksudkan untuk menggantikan
logika manusia, melainkan untuk menuntun logika itu menuju kebijaksanaan.
Jadi, perlukah mahasiswa Teknik Industri mempelajari Al-Qur’an?
Bukan hanya perlu, tapi penting. Karena Al-Qur’an bukan pelajaran tambahan,
melainkan kompas moral yang memastikan setiap langkah teknis kita tetap
menuju kebermanfaatan. Mahasiswa yang memadukan sains dan wahyu tidak hanya
akan lulus sebagai sarjana teknik, tapi juga tumbuh menjadi insinyur yang
berakal dan beriman.
Dan di tengah dunia industri yang semakin canggih namun sering kehilangan arah kemanusiaan, mungkin justru dari ruang kecil refleksi seorang mahasiswa Teknik-lah, kebangkitan nilai itu bisa dimulai kembali.
Komentar
Posting Komentar